Merasa Hina dan Resep Rasulullah: Kisah Muhasabah Sahabat Handzolah

Handzolah

Setiap manusia tentu pernah merasa jauh dari Tuhan. Dalam kesibukan dunia, terkadang kita lupa arah. Lupa tujuan hidup yang hakiki. Bahkan, sahabat Nabi sekalipun pernah merasa demikian. Salah satu kisah paling menyentuh tentang kegelisahan spiritual datang dari Handzolah Al-Usaidi radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi.

Berikut adalah riwayat lengkapnya:

أنَّ حَنْظَلةَ الأُسَيْديَّ -وكان مِن كُتَّابِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ- قال: لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ، فَقالَ: كيفَ أَنْتَ يا حَنْظَلَةُ؟ قالَ: قُلتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، قالَ: سُبْحَانَ اللهِ! ما تَقُولُ؟ قالَ: قُلتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حتَّى كَأنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِن عِندِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، عَافَسْنَا الأزْوَاجَ وَالأوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا، قالَ أَبُو بَكْرٍ: فَوَاللَّهِ إنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هذا، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حتَّى دَخَلْنَا علَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، قُلتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، يا رَسُولَ اللهِ، فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: وَما ذَاكَ؟ قُلتُ: يا رَسُولَ اللهِ، نَكُونُ عِنْدَكَ، تُذَكِّرُنَا بالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حتَّى كَأنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِن عِندِكَ، عَافَسْنَا الأزْوَاجَ وَالأوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، نَسِينَا كَثِيرًا، فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بيَدِهِ، إنْ لَوْ تَدُومُونَ علَى ما تَكُونُونَ عِندِي وفي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ المَلَائِكَةُ علَى فُرُشِكُمْ وفي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.

Perasaan Munafik yang Tidak Sendirian

Kisah ini bermula ketika Handzolah merasa munafik. Ia merasa bahwa ketika berada di majelis Rasulullah ﷺ, ia begitu fokus dan takut akan akhirat, seakan-akan surga dan neraka tampak nyata di hadapan. Namun, begitu kembali ke rumah, terlibat dalam urusan duniawi seperti keluarga, istri, dan ladang, semua itu terlupakan. Ia merasa kehilangan semangat spiritual yang semula kuat.

Kegelisahan ini kemudian ia sampaikan kepada Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, yang juga merasakan hal yang serupa. Tanpa menunda, keduanya kemudian mendatangi Nabi Muhammad ﷺ untuk mengadu langsung.

Apa yang terjadi? Nabi Muhammad ﷺ tidak menghakimi, justru memberikan jawaban yang sangat menyejukkan:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika kalian bisa terus dalam kondisi seperti ketika bersamaku dan dalam zikir, maka malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur dan di jalan-jalan kalian. Tapi wahai Handzolah, sā’atan fa sā’ah — sesekali begini, sesekali begitu.”

Dalam kalimat terakhir itulah terdapat resolusi spiritual yang luar biasa: sebuah ajaran tentang keseimbangan hidup, bukan fanatisme spiritual yang kaku, bukan juga tenggelam dalam dunia yang melupakan akhirat.

Resep Rasulullah: Bersahabat dengan Zikir dan Orang Shalih

Dari hadits ini kita belajar banyak hal. Pertama, bahwa merasa hina, merasa belum cukup ibadah, belum layak surga, bukan tanda kelemahan iman, tapi justru tanda kesadaran yang tinggi. Handzolah, seorang sahabat dan penulis wahyu, merasa seperti itu. Maka wajar jika kita pun sering merasakan hal serupa.

Kedua, Rasulullah ﷺ memberikan dua resep untuk menjaga hati agar tidak larut dalam kemunafikan:

Pertama, istiqamah dalam zikir, atau memperbanyak ingat kepada Allah, baik dalam hati maupun lisan. Ini adalah vitamin hati agar tidak mudah lalai. Kedua, berkumpul dengan orang-orang saleh, atau bersahabat dengan mereka yang membawa kita lebih dekat kepada Allah. Para ulama, guru spiritual, dan kawan-kawan yang saleh adalah pewaris nabi yang bisa menguatkan kita dalam jalan kebaikan.

Ketika seseorang merasa iman naik turun, itu bukan sesuatu yang harus disesali tanpa solusi. Justru itu panggilan untuk lebih banyak muhasabah (introspeksi diri). Kita bukan makhluk suci, dan memang tidak akan pernah sempurna. Tetapi, kita bisa terus berjalan menuju-Nya.

Baca Juga: Hati Orang Mukmin Menurut Sayyidina Ali

Satu Jam untuk Dunia, Satu Jam untuk Akhirat

Pesan paling kuat dari kisah ini mungkin terletak pada tiga kata Rasulullah: سَاعَةً وَسَاعَةً — sesekali begini, sesekali begitu. Artinya, kehidupan itu memang perlu seimbang: satu jam untuk dunia, satu jam untuk akhirat. Tidak semua orang bisa menjadi seperti Nabi yang selalu dalam zikir. Tapi kita bisa mengusahakan waktu-waktu terbaik untuk mendekat kepada-Nya, di tengah segala kesibukan yang fana.

Wallahu A’lam.

Share this content:

Post Comment