Aspek kearifan lokal (local wisdom) menjadi poin distingtif yang selalu melekat pada pribadi, kiprah dan karya K.H. Shodiq Hamzah. Hal ini terepresentasi melalui spirit bi lisāni qaumihi sebagai ikhtiar melestarikan risalah agama melalui karya-karyanya.
Pengalaman intelektual serta kepakaran beliau dalam konteks tafsir telah dituangkan ke dalam 37 karya/kitab. Di antara sekian cabang ilmu keislaman, beliau dikenal sangat expert (mutabahhir), ahli dan mahir dalam bidang ilmu Tafsir.
Satu di antara yang paling mengesankan adalah kitab al-Bayan fi Ma’rifah Ma’ani al-Qur’an, karena substansi tafsirnya menekankan pada aspek local genuine. Kitab tersebut berorientasi pada spesifikasi bahasa dan konteks sosio-kultural. Partisipasi K.H. Shodiq Hamzah dalam berbagai diskursus tafsir, juga menegaskan bahwa beliau adalah sosok ulama hebat.
Secara umum sistematika penulisan tafsir al-Bayan hampir sama dengan kitab-kitab tafsir lain dari ulama Jawa sebelumnya, seperti K.H. Bisyri Mustofa dalam al-Ibriz dan K.H. Misbah Mustofa dalam al-Iklil. Meskipun demikian, dalam konteks perkembangan diskursus tafsir kontemporer, tafsir al-Bayan Kiai Shodiq ini mempunyai positioning penting di antara kitab tafsir lainnya.
Genuine Tafsir al-Bayan Karya Kiai Shodiq
Saya melihat kekuatan tafsir al-Bayan Kiai Shodiq ini terletak pada dua aspek. Pertama, kesadaran Kiai Shodiq bahwa menafsirkan al-Qur’an bukan berarti memuaskan pengetahuan untuk dirinya sendiri. Tetapi sebagai usaha menyampaikan maksud al-Qur’an kepada orang lain. Kiai Shodiq memiliki kesadaran bahwa ia akan menyampaikan tafsir kepada masyarakat awam sebagaimana pengakuannya pada muqadimah tafsirnya.
Kesadaran ini sangat penting dimiliki oleh setiap penafsir al-Qur’an, agar makna yang dihasilkan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan pembaca (umat). Oleh karena itu, meskipun rujukan tafsir al-Bayan mencakup berbagai kitab tafsir yang beragam dengan kedalaman kajian bahasa, hukum dan lainnya, Kiai Shodiq tidak larut pada penjelasan yang terlalu rumit dan panjang.
Justru Kiai Shodiq menyajikan makna al-Qur’an yang bersifat praktis, to the point pada mengungkap apa instruksi al-Qur’an kepada umat. Bahkan kesadaran tersebut mengantarkan Kiai Shodiq pada menyajikan penjelasan penting tentang kegunaan ayat atau surat al-Qur’an untuk memenuhi kebutuhan manusia. Penjelasan ini Kiai Shodiq khususkan dengan judul “fadhilahe”.
Kekuatan kedua dari tafsir al-Bayan, Kiai Shodiq langsung mengajarkan kitab ini. Sebelum menulis tafsir al-Bayān, ia telah mengajarkan kitab tafsir al-Jalalain dan al-Ibriz. Setelah lahir tafsir al-Bayān, Kiai Shodiq mengajarkannya kepada para santri dan masyarakat.
Dalam konteks tradisi sanad keilmuan pesantren, maka para audiens tafsir al-Bayan memiliki kekuatan sanad yang berbeda dengan tafsir lainnya. Sebab penerimaan mereka tidak hanya melalui kitab (munawalah), tetapi juga melalui pertemuan langsung (simā’i).
Baca juga: Tafsir al-Bayan: Wajah Baru dan Ijtihad Literasi
Perjuangan Kiai Shodiq melalui tafsir al-Bayan merupakan usaha penting dalam merawat tradisi pesantren, yakni menulis dan mengajarkannya sekaligus (ta’līf wa ta’līm), yang saat ini sudah cukup jarang digeluti oleh para tokoh pesantren.
Oleh karena itu, saya melihat bahwa melalui tafsir al-Bayan, Kiai Shodiq telah menunjukkan kiprah dan sumbangsih yang besar. Yakni dalam berbagai aspek pengembangan ilmu keislaman, khususnya tafsir. Pertama, perannya sebagai penafsir al-Qur’an. Kedua, transleter masyarakat dalam memahami makna praktis al-Qur’an. Ketiga, penerus tradisi keilmuan pesantren yang khas dengan spirit ta’līf dan ta’līm.
Ulama Inspiratif Dambaan Umat
Kiai Shodiq Hamzah merupakan prototipe Kiai dan sosok individu yang sangat menginspirasi. Ketika masih berstatus santri, beliau menyelesaikan karier akademik dengan sangat baik. Mulai dari disiplin ilmu alat, ushuluddin, fikih/ushul fikih hingga disiplin akhlak-tasawuf. Ada lagi tarekat (sebagai mursyid) dan ilmu hikmah.
Kemudian setelah itu, beliau terlibat langsung dalam pengembangan pendidikan Islam melalui proses transfer of knowledge (ta’līm) maupun dalam pengajaran pendidikan akhlak dan karakter (ta’dīb-tarbiyah). Terlebih, di lembaga yang berada di bawah naungan pesantren Ash-Shodiqiyyah milkinya. Selain itu, beliau merupakan Kiai yang aktif dan entengan di masyarakat, sehingga beliau banyak terlibat dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan.
Di antara jabatan yang pernah beliau emban, selain sebagai Ra’is Syuriyah PCNU kota Semarang adalah sebagai pendiri sekaligus pembimbing KBIH As-Shodiqiyyah. Lalu menjadi penasehat Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), penasehat MUI Jawa Tengah, penasehat PLN Jawa Tengah, pengurus JATMAN Idharah Wustha, dan sebagainya.
Selain menulis “Tafsir al-Bayān fī Ma’rifah Ma’āni al-Qur’ān” 30 Juz yang fenomenal, beliau juga tercatat menulis beberapa buku terkait Tafsir. Di antaranya buku berjudul “Zubdat al-Bayān fī Bayān Faḍā’il Suwar al-Qur’ān”. Buku ini membahas tentang keutamaan, keistimewaan, hasiat dan kekhususan surat-surat al-Qur’an. Selain itu, buku ini juga berisi tentang kemuliaan al-Qur’an lengkap dengan tatacara bercengkrama dengan al-Qur’an.
Karya-karya yang beliau torehkan ini, menurut saya tidak hanya menandai akan kepakaran beliau. Lebih dari, itu juga merupakan usaha maksimal beliau dalam menjembatani kalangan pembaca untuk mampu mengakses dan mendalami ilmu-ilmu keislaman dengan sangat mudah. Khususnya bagi para generasi milenial hari ini.
Kepakaran Mengantarkan Gelar Honoris Causa
Penganugerahan gelar doktor Honoris Causa kepada Kiai Shodiq saya rasa lebih dari sekedar pantas. Melihat level keilmuan beliau yang saya nilai sudah melampaui doktor. Dalam bidang keilmuan tafsir, para akademisi, doktor, guru besar mengkaji al-Qur’an dalam kerangka tradisi saintifik. Namun, Kiai Shodiq membawa ilmu tafsir pada tataran yang distingtif. Kiai Shodiq menorehkan warna khas plusunik dengan sentuhan tradisi yang kental.
Tafsir al-Bayan, mampu meneguhkan posisinya di antara banyaknya tafsir lainnya yang juga berbahasa Jawa. Dalam hemat saya, al-Bayan merupakan wujud nyata “membumikan ilmu langit”, membawa al-Qur’an begitu dekat dan kontekstual dengan nilai kehidupan sehari-hari. Kemudian membawakannya dalam bahasa yang alus tur njawani. Al-Bayan mampu memikat generasi muda yang ingin belajar al-Qur’an agar tetap mengikat pada tradisi Jawa dan pesantren.
Perkembangan ilmu Tafsir dan banyak munculnya tafsir al-Qur’an selama abad ke-21 ini, menunjukkan bukti bahwa tafsir sebagai penjelas makna al-Qur’an sangat dibutuhkan dalam era peradaban yang terus berubah. Perlu adanya ilmu tafsir yang mampu menyatukan dimensi intrinsik dan ekstrinsik, esoterik dan eksoterik. Sehingga, dapat mengikuti kebutuhan para pencari ilmu dan kontekstualitas zaman yang terus berkembang.
Baca juga: Syiar Agama: Tadayyun dan Berduyun-duyun
Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa ini semoga mampu meneguhkan jati diri UIN Walisongo sebagai perguruan tinggi yang concern pada perkembangan kajian ilmu Tafsir. Selain itu, agar dapat menginspirasi dan melahirkan alim ulama hebat lainnya dalam berkhidmah mempelajari al-Qur’an.
Saya sampaikan selamat, alf mabruk kepada Dr (Hc.) KH Shodiq Hamzah atas anugerah Dr Honoris Causa ini semoga bermanfaat dan lebih kontributif untuk bangsa dan negara, khususnya bagi pengembangan kampus kemanusiaan dan peradaban UIN Walisongo Semarang.
Syair untuk Kiai Shodiq: Mufassir Alim
فَصَالِحْ دَارَاتْ قَدْ أَتَى بِفَيْضِ الرَّحْمٰنِ * فِيْ تَرْجَمَةِ كَلَامِ الْـمَلِكِ الدَّيَّانِ
Kiai Saleh Darat berjasa menyusun tafsir “Faiḍ al-Raḥmān”, untuk menjelaskan maksud firman Allah al-Malik al-Dayyān
لِنَشْرِ تَعَالِيْمِ الْإِسْلَامِ فِيْ ظُهُوْرِ الْــــ * ــــــــاِسْتِعْمَارِ الْهُوْلَنْدِيْ مِنْ طَلَبِ الْكَارْتِيْنِي
Tafsir ini ditulis untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang ada, atas permintaan R.A. Kartini di saat agresi penjajahan Belanda
ثُمَّ جَاءَ خَادِمُ مَعْهَدِ الصَّادِقِيَّةْ * بِتَفْسِيْرِ الْبَيَانِ بِالْبِيْغُوْنِ اللَّاتِيْنِيْ
Kemudian Pengasuh Pesantren ash-Shodiqiyyah datang meneruskan, dengan aksara pegon latin, beliau menulis Tafsir al-Bayān
مَحَلّـِـيُّ اللُّغَةِ عَالَــــمِـيُّ الْأُفُقِ * مُطَابِقٌ لِلْعَصْرِ لَاسِيَّمَا الشُّبَّانِ
Tafsir ini berbahasa lokal, namun berwawasan global, sangat cocok untuk era saat ini, khususnya generasi kaum milenial
يَا حَبَّذَا شَيْخُنَا مِنْ بِحَارِ الْعُلُوْمِ * وَحَبَّذَا صَادِقْ حَمْزَةْ مِنْ شَيْخٍ رَبَّانِيْ
Betapa indahnya guru kami yang ilmunya luas dan dalam seperti lautan. Aduhai eloknya KH Shodiq Hamzah sebagai seorang Kiai panutan
هٰذِهِ جَائِزَةُ الدُّكْتُوْرَاهْ اَلْفَخْرِيَّةْ * مِنْ وَالِيْ سُونْجُوْ وَمِنْ فَضْلِ اللهِ الـْمَتِيْنِ
Ini adalah anugerah Doktor Honoris Causa, dari UIN Walisongo, juga anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa
Disampaikan dalam sambutan Rektor UIN Walisongo Semarang pada Sidang Senat Terbuka Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa KH. Shodiq Hamzah dalam bidang Ilmu Tafsir (29/11)
Share this content:



Post Comment